Dahulu kita pernah menikmati angin tanah surga ini bersama
Menyanyikan kidung kidung jenaka sampai pada lirik lirik yang membakar jiwa
Ku rasa baru kemarin kita berlarian mengejar kereta
Menyusuri tempat dimana debu menjadi sahabat dan hujan menjelma sebagai puisi
Di langit biru itu kita pahatkan mimpi yang penuh ornamen kasih sayang dan canda
Tak kuat tapi berada dalam satu ikatan yang saling menguatkan

Kini kita laksana paku baja,kuat tapi sendiri
Kau berjalan ke barat dan dia ke arah timur
Ku kira dengan bulatnya bumi akan tiba saatnya semua bertemu lagi
Memandang pada arah yang sama,berjuang untuk mimpi yang kita ikrarkan dengan lantang
Namun nyatanya saat kalian bertemu tak lagi kudengar teriakan sapa
Masih ku dengar kau agungkan matahari yang sedang terbit dan dia puja matahari ketika menuju peraduan
Sementara aku kalian anggap patung yang hanya berhak untuk melihat tanpa berbicara
Padahal aku hanya ingin berkata “hey bukankah yang kalian lihat adalah matahari yang sama? ”

Dulu kita pernah bersahabat,entah kapan lagi…